Ada
pemandangan yang tidak biasa dalam unjuk rasa kasus penistaan agama Gubernur
DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama, Jumat (4/11) lalu. Tidak hanya para pendemo
yang memenuhi jalanan ibukota yang ramai dan penuh sesak, ada beberapa orang
yang peduli dengan lingkungan sekitar berinisiatif membantu kerja para petugas
kebersihan dengan mengumpulkan sampah-sampah yang bertebaran di sepanjang
jalan.
Seperti
yang dilakukan Yuli. Wanita paruh baya tersebut berjalan di antara para pendemo
yang melakukan long march dari Masjid
Istiqlal menuju Istana Negara, sambil memunguti sampah. Sampah-sampah tersebut
dimasukkannya ke dalam kantung plastik (trash bag). Ia tampak bersemangat
memunguti sampah-sampah tersebut sehingga membuat demonstran yang melihat aksi
wanita itu ikut membantu mengumpulkannya.
Menurut
Yuli, aksi yang dilakukannya seorang diri tersebut bertujuan untuk menyadarkan
masyarakat, terutama pendemo agar tidak hanya berdemo menyuarakan pendapat
saja, namun juga peduli terhadap lingkungan sekitar tempat mereka berdemo. “Yang
seperti ini harusnya bisa dicontoh,” ucapnya.
Tidak
hanya Yuli, sejumlah santri asal Bogor, Jawa Barat, juga melakukan hal yang
sama. Mereka memunguti sampah-sampah yang dibuang para pendemo di sepanjang
jalan yang dilalui pendemo. Aksi yang dinamai ‘Demo Bersih’ ini dilakukan
dengan didasari ajaran Islam tentang kebersihan.
“Kami
bersama teman-teman sangat peduli dengan kebesaran dan kemuliaan Islam, jadi
kami berkumpul dan bergerak bersama untuk menjaga kebersihan Jakarta pada demo
ini,” ujar Achmad, koordinator aksi tersebut. Kelompok ini akan terus
membersihkan sampah-sampah sepanjang demo berlangsung. Dengan begitu, kata
Achmad, aksi tersebut tetap meninggalkan kesan baik bagi pendemo.
Aksi
bersih-bersih sampah ini tentu sangat menginspirasi para pendemo untuk tergerak
melakukan kegiatan yang positif ini. Selain untuk meringankan beban para
petugas kebersihan, aksi tersebut membuat Kota Jakarta kembali bersih pasca
demo. (*)
Untuk keperluan tugas.