Kamis, 28 April 2016

LGBT Menghantui Generasi Muda

   Akhir-akhir ini, banyak tayangan (baik reality show maupun sinetron) yang tayang di televisi menampilkan adegan-adegan yang mengandung unsur LGBT. Dalam tayangan tersebut, ada beberapa adegan yang sebenarnya tidak terasa aneh dan menganggap itu sebagai hal biasa, misalnya, lelaki dipanggil dengan sebutan madam, atau pemeran pria berpenampilan banci.
   Mungkin kita masih mengingat Aming, artis yang ketika zaman program Extravaganza di salah satu stasiun televisi swasta pernah membawakan peran-peran banci. Begitu juga tingkah laku Olga Syahputra (alm.) yang disetiap penampilan selalu berpenampilan lebay. Peran-peran seperti ini di mata orang yang menyaksikan, memberikan hiburan tersendiri. Namun di sisi lain, peran-peran tersebut memiliki dampak yang buruk bagi yang menonton, apalagi bila yang menontonya adalah anak-anak.
   Di Indonesia, pelaku-pelaku LGBT ini hanya segelintir dari kelompok masyarakat yang ada di Tanah Air. Jumlah mereka dapat dihitung dengan jari. Namun siapa sangka, bahwa kaum LGBT ini ternyata juga memiliki komunitas-komunitas tersendiri. Bahkan, ada yang mendapat dukungan dari sebuah lembaga mahasiswa di salah satu universitas negeri. Selain itu, ada usaha dari pelaku LGBT tertentu untuk menuntut legalisasi pernikahan sesama jenis oleh pemerintah dengan satu alasan: hak asasi manusia (silahkan buka situs Change.org untuk penjelasannya).
  Kita tentu sudah mengetahui tertangkapnya artis dangdut Saipul Jamil karena melakukan pencabulan terhadap anak dibawah umur. Dari penuturannya, Saipul Jamil semasa kecil sering dianiaya ayah kandungnya yang merupakan preman, sehingga ia lebih sering dekat dengan ibu kandungnya. Karena kedekatan itulah, ia mendambakan sosok istri yang mirip seperti ibunya. Namun kenyataan berkata lain. Saipul Jamil telah mengalami dua kali kandasnya rumah tangga. Yang pertama, bercerai dengan istri pertama, Dewi Persik, dan ditinggal mati istri kedua, Virginia Anggraini akibat kecelakaan di Tol Cipularang, 5 tahun silam. Hal inilah yang membuatnya sulit melakukan hubungan dengan lawan jenis sehingga menimbulkan terjadinya pencabulan homoseksual.
   Tidak hanya kasus Saipul Jamil, ada kasus yang juga menghebohkan masyarakat terkait LGBT, salah satunya pernikahan sesama jenis. Di Bali pada September 2015 lalu, masyarakat maupun netizen dihebohkan dengan foto dan berita pernikahan sejenis antar pria. Dalam foto yang diposting melalui akun Facebook Ali Subandoro yang menandai akun Tico Mulya dan Joe Tully, tergambar prosesi pernikahan antara lain sungkeman, ucap janji nikah dan ungkapan kasih sayang dengan menempelkan kedua dahi sambil berpegangan tangan. (Sumber: Liputan6.com, ditulis 16 September 2015).
   LGBT (akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) merupakan sebuah kelainan orientasi seksual yang dialami seseorang. Bila dijelaskan per akronim, orang-orang yang termasuk dalam kelompok LGBT adalah:

  1. Lesbian: perempuan yang orientasi seksualnya ditujukan kepada perempuan
  2. Gay atau Homoseks: laki-laki yang orientasi seksualnya ditujukan kepada laki-laki
  3. Biseksual: kebiasaan seksual yang dilakukan kepada pria maupun wanita sekaligus
  4. Transgender: tidak samanya identitas gender terhadap jenis kelamin yang dimiliki

   Mengambil dari berbagai sumber seperti dikutip Wikipedia, istilah ini memiliki sejarahnya. Istilah pertama yang banyak digunakan, "homoseksual", dikatakan mengandung konotasi negatif dan cenderung digantikan dengan "homofil" pada era 1950-an dan 1960-an, dan lalu gay pada tahun 1970-an. Frase "gay dan lesbian" menjadi lebih umum setelah identitas kaum lesbian semakin terbentuk. Pada tahun 1970, Daughters of Bilitis menjadikan isu feminisme atau hak kaum gay sebagai prioritas. Maka, karena kesetaraan didahulukan, perbedaan peran antar laki-laki dan perempuan dipandang bersifat patriarkal oleh feminis lesbian. Banyak feminis lesbian yang menolak bekerja sama dengan kaum gay. Lesbian yang lebih berpandangan esensialis merasa bahwa pendapat feminis lesbian yang separatis dan beramarah itu merugikan hak-hak kaum gay. Selanjutnya, kaum biseksual dan transgender juga meminta pengakuan dalam komunitas yang lebih besar. Akhir 1970-an dan awal 1980-an, terjadi perubahan pandangan; beberapa gay dan lesbian menjadi kurang menerima kaum biseksual dan transgender. Kaum transgender dituduh terlalu banyak membuat stereotip dan biseksual hanyalah gay atau lesbian yang takut untuk mengakui identitas seksual mereka. Setiap komunitas yang disebut dalam akronim LGBT telah berjuang untuk mengembangkan identitasnya masing-masing, seperti apakah, dan bagaimana bersekutu dengan komunitas lain; konflik tersebut terus berlanjut hingga kini.
   Akronim LGBT ini kadang digunakan di Amerika Serikat dimulai dari sekitar tahun 1988. Baru pada tahun 1990-an istilah ini banyak digunakan. Walaupun singkatan LGBT tidak meliputi komunitas yang lebih kecil (lihat bagian Ragam di bawah), akronim ini secara umum dianggap mewakili kaum yang tidak disebutkan. Secara keseluruhan, penggunaan istilah LGBT telah membantu mengantarkan orang-orang yang terpinggirkan ke komunitas umum. Aktris transgender Candis Cayne pada tahun 2009 menyebut komunitas LGBT sebagai "minoritas besar terakhir", dan menambahkan bahwa "Kita masih bisa diganggu secara terbuka" dan "disebut di televisi." (id.wikipedia.org/wiki/LGBT)
   Benarlah apa yang dikatakan Sosiolog Budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati di salah satu media online yang mengatakan, "Tren ini (LGBT) semakin meningkat seiring dengan banyaknya produk-produk budaya populer yang masuk ke Indonesia. Seperti film tentang gay misalnya, membuat orientasi berbeda sudah lumrah, dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar,". Mengambil definisi teori jarum hipodermik yang menyebut bahwa terpaan media dapat langsung mengenai audience, sangat tepat karena audience yang diterpa konten-konten yang berbau LGBT biasanya akan langsung diterima, apalagi yang menerimanya adalah anak muda yang bisa dibilang 'gampang mengkuti tren'. Karena itulah, kaum LGBT di Indonesia menjadi lebih percaya diri karena mereka bebas berperilaku tanpa rasa malu.
   Upaya yang dilakukan pemerintah dalam membendung kehadiran kaum LGBT saat ini sudah cukup baik. Salah satunya, melalui Komisi Penyiaran Indonesia, mengeluarkan larangan mempromosikan LGBT, baik di radio maupun televisi. Namun, kita sangat mengharapkan kepada pemerintah agar jangan sampai lengah mengantisipasi usaha kaum LGBT untuk melegalkannya. Tak hanya pemerintah, peran serta masyarakat juga diperlukan seperti tokoh agama maupun tokoh masyarakat, bahkan dalam keluarga berperan penting untuk menghindarkan generasi kita dari pengaruh LGBT.

Sabtu, 23 April 2016

Profil Syawa Irhamna

     Syawa Irhamna (22) merupakan pesinetron pendatang baru yang bermain dalam sinetron Catatan Hati Seorang Istri yang ditayangkan di RCTI. Pesinetron kelahiran Jakarta, 2 April 1994 ini mengawali karier artisnya dari casting. Awalnya, ia dikenalkan dengan seorang sutradara oleh temannya, yang lantas mengikuti casting. Sempat mengalami gagal lolos dua kali, pada kesempatan ketiga, Syawa berhasil lolos casting dan langsung membintangi sinteron Catatan Hati Seorang Istri.
     Di sinetron tersebut, Syawa berperan sebagai Hana, istri pertama yang diselingkuhi oleh suaminya (diperankan Ashraff Sinclair). Namun di sisi lain, ia harus tegar dalam menjalani kehidupannya yang berantakan, termasuk dengan mendengarkan curhat para istri-istri lain yang mengalami hal yang serupa dengannya.
     Saat ini, Syawa sudah dua tahun menjalani karier sinetron. Dan sampai saat ini masih bermain di sinetron garapan Hanung Bramantyo tersebut yang mana musim ke-2 dari sinetron tersebut akan tayang 25 April di RCTI. Mahasiswi semester akhir di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya memiliki rencana untuk bermain film bergenre romantis. Selain itu, Syawa juga memiliki keinginan untuk bermain film internasional, namun Syawa akan melakukannya bila ada tawaran dari rumah produksi di luar negeri. Honor yang didapatkan selama bermain di sinetron tersebut sebesar Rp 10.000.000 untuk satu sinetron.
      Antara karier dan pendidikan, Syawa hanya ingin fokus kuliah. Namun, kegiatan syutingnya tidak terganggu karena ia sedang menyelesaikan skripsi S1 nya.
     Syawa memliki kekasih yang bernama Gilang Dwiki. Meski ia menekuni dunia sinetron, namun hubungan mereka terus terjalin. Pacarnya bahkan mendukung karier keartisannya. Ketika ditanya soal dukungan orang tua, Syawa mengatakan mereka hanya menyetujui kariernya. Kesuksesannya tak lepas dari figur yang menginspirasinya, yaitu Ibunya. Namun, tak ada anggota keluarga lain yang ingin mengikuti jejak maupun yang sudah menekuni keartisannya.
     Syawa yang kurang menyukai dunia keartisan/film dari Hong Kong dan India ini merasa menyukai dan nyaman menjalani perannya sebagai Hana di sinetron Catatan Hati Seorang Istri. Meski begitu, ia terkendala waktu dan kesehatan yang dapat mempengaruhi aktivitas syutingnya. Pesinetron yang menyukai peran melankolis dan religi ini mengatakan akan sebisa mungkin memerankan peran tersebut dengan baik.
   Dalam mengisi waktu senggangnya, Syawa sering berjalan-jalan ke mall. Dan ketika menuju tempat syuting, dalam tasnya biasanya hanya membawa dompet, alat-alat make up, dan buku untuk mengisi waktu jeda syuting. Syawa ternyata memiliki keinginan menjadikan Tara Budiman lawan mainnya di sinetron manapun.
     Agar tetap menjaga kecantikannya, Syawa membagikan rahasianya. Rahasia kecantikannya sangat sederhana, yaitu minum air putih, mengkonsumsi buah-buahan, dan menjaga pola makan. Syawa--yang memiliki kelompok penggemar yang disebut Salwatara--memiliki niat untuk membuka usaha butik yang dinamai Irhamna Syahril Butik di Kemang. Pengagum aktris Acha Septriasa dan Kristen Stewart ini kemungkinan juga akan melakoni profesi model. Dan saat ini, Syawa sedang ditawari oleh agensi model Zaura Model Agency. Selain itu, Syawa juga menginginkan tawaran membintangi iklan Wardah, salah satu produk kosmetik di Indonesia.

(untuk tugas mahasiswa)

Rabu, 16 Maret 2016

Mahasiswa Jayabaya mengunjungi Studio RCTI

     Rabu (16/3), mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya melakukan kunjungan ke studio RCTI di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta. Jumlah mahasiswa yang berkunjung berjumlah 53 orang dengan didampingi dua dosen, yaitu Mung Pujanarko, SSos, MIKom dan Winarni, SSos, MSi.
   Kedatangan rombongan mahasiswa disambut oleh Bpk. Chambara dari Divisi Corporate Communication RCTI di taman Dahsyat yang terletak di belakang gedung utama. Kemudian, rombongan diajak untuk keliling studio. Studio pertama yang dikunjungi adalah Studio 1 yang merupakan studio program musik Dahsyat. Di studio tersebut, para mahasiswa hadir untuk terlibat sebagai penonton tamu, meski hanya diberi kesempatan segmen pertama.
     Setelah beranjak dari studio 1, para mahasiswa diajak untuk melihat ruang master control. Di studio RCTI ini terdapat dua ruang master control, yaitu satu ruangan untuk Indovision, serta satu ruangan untuk RCTI. Setelah itu, rombongan menuju Studio 9 yang merupakan studio untuk program Baper. Kondisi studio sedang tidak digunakan dan set studionya masih berantakan. Kemudian, mereka menuju Studio 4 yang merupakan studio untuk program talkshow CECEPY bikin Happy. Disana, program tersebut sedang dilakukan recording untuk ditayangkan siang. Meski hanya berada disana hingga segmen pertama, namun, para mahasiswa telah merasakan atmosfer suasana setiap studio.
      Kunjungan pun berakhir di lobby gedung utama RCTI. Disnilah, tamu-tamu perusahaan maupun manajemen berkantor. Setelah tur studio, sebagai penutup diadakan sesi foto bersama. Dan rombongan meninggalkan studio sekitar pukul 11.30 WIB.

Para mahasiswa saat diberi pengarahan oleh Bpk. Chambara dari RCTI

Suasana studio Dahsyat RCTI sebelum live on-air

Para mahasiswa saat melihat ruang master control Indovision

Ruang master control RCTI

Bpk. Chambara dari RCTI saat menjelaskan tentang studio 9

Suasana saat program Dahsyat bersiaran dari studio Cecepy

Suasana studio program Cecepy sebelum recording

Rabu, 09 Maret 2016

Wawancara Jurnalisitik

   Wawancara pada dasarnya adalah bentuk teknik peliputan yang dilakukan wartawan pada umumnya. Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab tentang suatu masalah yang dilakukan oleh wartawan kepada narasumber.
   Wawancara jurnalistik sendiri adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan wartawan untuk mendapatkan informasi guna kepentingan produk jurnalistik. Syarifudin Yunus dalam Jurnalistik Terapan (2012), menyatakan bahwa teknik ini membutuhkan beberapa keterampilan dasar yang mencakup:
  1. Memahami maksud dan tujuan wawancara
  2. Menguasai topik dan materi yang diwawancarakan
  3. Mampu menata organisasi wawancara, termasuk waktu untuk melakukan wawancara
  4. Mampu mendeteksi keseuaian hasil wawancara dengan proyeksi berita yang akan ditulis


    Wawancara sendiri berisi pendapat, pandangan, atau pengamatan narasumber yang dijadikan bahan untuk penulisan berita. Selain itu, wawancara juga berguna untuk mengklarifikasi, mengkonfirmasi, atau meluruskan kembali informasi-informasi yang sebelumnya sempat beredar maupaun berita yang dilansir dari media lain.

Ada 8 persyaratan wawancara yang harus dipenuhi (Syarifudin Yunus, 2012), antara lain:
  1. Mempunyai tujuan jelas
  2. Efisien (dilakukan ringkas tetapi mendalam)
  3. Menyenangkan (tidak terkesan memberi tekanan terhadap narasumber/diinterogasi)
  4. Mempersiapkan diri dan riset awal (persiapkan materi yang akan ditanyakan kepada narasumber)
  5. Melibatkan khalayak (memihak kepentingan publik)
  6. Menimbulkan spontanitas
  7. Mengendalikan suasana
  8. Mengembangkan logika


Selain itu, syarat utama yang mutlak diperlukan dalam melakukan wawancara jurnalistik adalah:
  1. Memiliki kepecayaan diri tinggi
  2. Kecakapan materi/mampu menguasai masalah
  3. Memiliki pengalaman



   Perlu dipahami, prinsip dalam wawancara jurnalistik sangat penting untuk mendapatkan hasil wawancara yang optimal. Prinsip yang dipahami tersebut antara lain:
  1. Menjaga suasana agar tujuan wawancara tercapai
  2. Bersikap wajar
  3. Mengendalikan situasi agar tidak terbawa emosi dan terjebak dalam perdebatan
  4. Cerdas ketika mengambil kesimpulan
  5. Berfokus pada masalah agar saat wawancara tidak bertele-tele/keluar dari topik yang diwawancarakan
  6. Kritis
  7. Beretika sopan santun


     Dalam konteks lain, wawancara memiliki tiga kompetensi pokok, yaitu wawancara sebagai ilmu, wawancara sebagai seni, dan wawancara sebagai keterampilan. Maksudnya, wawancara sudah pasti memerlukan wawasan yang mendukung agar tujuan yang diinginkan tercapai. Selain itu, wawancara juga membutuhkan kreativitas berkomunikasi untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan, serta pada akhirnya wawancara menjadi suatu keterampilan khusus dalam membangun komunikasi dialogs dengan orang lain, didukung dengan aset bahasa yang produkif dan terampil.
Ada beberapa tujuan yang dicapai dalam wawancara jurnalsitik (Syarifudin Yunus, 2012), yaitu:
  1. Tujuan faktual: bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung
  2. Tujuan riset: bertujuan untuk mendapat informasi dan data-data penting yang terkait
  3. Tujuan penegasan: bertujuan untuk menguji kebenaran data yang didapat sebelumnya untuk mendapatkan fakta yang akurat.



Referensi: Yunus, Syarifudin. 2012. Jurnalsitik Terapan. Bogor: Ghalia Indonesia.

Minggu, 03 Januari 2016

Sinar Harapan (27 April 1961-31 Desember 2015)

Dan semuanya telah berakhir...


     Ya, Sinar Harapan harus kembali 'mati' untuk kedua kalinya--dan yang terakhir--setelah mengantarkan informasi kepada pembacanya selama 14 tahun kembalinya pasca breidel oleh pemerintahan orde baru Soeharto.

     Saya sendiri baru tahu bahwa Sinar Harapan sudah berhenti terbit setelah adik saya menunjukkan sebuah kutipan berita di Facebook dari salah satu situs berita ternama. Karena itulah, saya mencoba mengecek epaper Sinar Harapan untuk memastikan apakah benar Sinar Harapan sudah berhenti terbit atau bukan. Dan ternyata benar! Sinar Harapan menerbitkan edisi terakhirnya pada 31 Desember 2015 atau sehari menjelang tahun baru 2016. Melalui edisi tersebut, pihak penerbit yaitu PT. Sinar Harapan Persada menyampaikan pengumuman penghentian penerbitan Sinar Harapan berikut ini:

Pengumuman Penghentian Penerbitan Sinar Harapan, 31 Desember 2015
     Saya sendiri tahu bahwa mungkin, Sinar Harapan sepertinya tidak bertahan lama. Hal ini karena ketika saya terakhir mengunjungi situs epaper tersebut antara Oktober-November. Saat itu, saya terkejut bahwa Sinar Harapan sekarang jadi terbit setiap Senin-Jumat (Edisi Akhir Pekan yang terbit Sabtu dihentikan penerbitannya). Selain itu, jumlah halamannya mulai berkurang, dari awalnya 20 halaman sekarang menjadi 16 halaman.
     Memang, semenjak berganti wajah (saya lupa kapan tampilan baru itu mulai), banyak sekali rubrikasi yang dirombak oleh Sinar Harapan. Salah satunya yang masih saya ingat, jika pada tampilan Sinar Harapan sebelumnya, masih terdapat rubrik iklan baris, sekarang rubrik tersebut benar-benar hilang. Jadilah, iklan yang ada di koran ini hanyalah iklan kolom.
    Sungguh kecewa memang, tapi apa mau dikata. Sinar Harapan harus mengakhiri perjalanannya memberi informasi, meski ditengah pesatnya teknologi dan juga komersialisasi media. Sinar Harapan, yang terbit perdana pada 27 April 1961 dan terbit kembali pasca bredel oleh pemerintahan orde baru Soeharto pada 5 Juli 2001, sudah merasakan bagaimana lika-liku kebebasan pers Indonesia. Perjuangan koran yang terbit sore dengan slogan "Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih" pada awal-awal terbit hingga dibredel tidak selamanya mulus.
   Beberapa hal yang menjadi batu sandungan perjalanan Sinar Harapan adalah:

  1. Sinar Harapan dibredel bersama surat kabar lainnya pada 2 Oktober 1965 (2 hari pasca peristiwa G30S/PKI)
  2. Sinar Harapan berurusan Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK-PWI) pada tahun 1972 terkait berita yang berjudul "Presiden Larang Menteri-Menteri Fasilitasi pada Proyek Mini"
  3. Surat Izin Cetak (SIC) Sinar Harapan dicabut oleh Pangkopkamtib pada 2 Januari 1973. Hal ini karena Sinar Harapan selalu memberitakan dengan tajam kasus-kasus korupsi di Pertamina, Bulog, Kehutanan, dan bahkan pada 30 Desember 1972 pernah memuat RAPBN 1973-1974.
  4. Sinar Harapan dilarang terbit pada 20 Januari 1978 setelah memuat berita kegiatan mahasiswa, karena membuat situasi politik Indonesia memanas.
  5. Dan puncaknya, Oktober 1986, SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) Sinar Harapan dicabut oleh pemerintahan Soeharto. Berita yang berjudul "Pemerintah Akan Cabut 44 SK Tata Niaga Bidang Impor" menjadi penyebab dibredelnya Sinar Harapan, karena berita tersebut dinilai mengganggu stabilitas nasional.


   Sejak saat itu, Sinar Harapan sudah tidak bisa terbit. Apalagi pemerintah tidak mengabulkan pengijinan terbit kembali Sinar Harapan. Kalau ingin terbit, mau tak mau harus mendirikan perusahaan baru dan juga nama baru. Selain itu, pimpinan yang pernah mengelola Sinar Harapan tidak boleh memimpin koran baru tersebut. Hasilnya, terbitlah Suara Pembaruan pada 4 Februari 1987 (yang juga terbit sore, namun tetap eksis hingga sekarang. Bahkan, sekarang sudah memiliki kelompok media BeritaSatu yang menaungi Harian Investor Daily dan media-media lainnya) dibawah naungan penerbit PT. Media Interaksi Utama. Namun, hal ini menimbulkan perbedaan pendapat antara pendiri Sinar Harapan dengan manajemen barunya. Hingga pasca orde baru dan memasuki era reformasi BJ Habibie, Pak Rorim--begitu HG Rorimpandey (pendiri Sinar Harapan, kini almarhum) disapa--mengajak Nico Sompotan, Bara Katoppo, dan lainnya untuk menerbitkan kembali Sinar Harapan pada 5 Juli 2001. Namun, batu sandungan masih menjegal Sinar Harapan. Seperti yang ditulis Kristanto Hartadi (anggota dewan redaksi Sinar Harapan) di edisi terakhir Sinar Harapan, konflik-konflik internal terus terjadi, bahkan hingga hari-hari terakhir [lihat lampiran]. Namun, ia tidak pernah menyesal ikut membantu berdirinya kembali Sinar Harapan.

   Kini, Sinar Harapan sudah hilang di agen-agen, pengecer, bahkan tidak lagi datang ke pembaca. Namun, saya akan tetap mengenangnya sebagai surat kabar sore yang harus berjibaku menyusuri kerasnya kebebasan pers pada zaman orde baru, dan dari terbitnya kembali hingga tutupnya saat ini. Sebenarnya, Sinar Harapan bisa beralih ke media online yang dimiliki (seperti halnya Jurnal Nasional atau Jakarta Globe). Namun, entah sampai berapa tahun lagi, Sinar Harapan akan kembali datang mengantarkan berita-berita kepada pembacanya. Tapi yang jelas, semua sudah berakhir....


Catatan: penulis meminta maaf bila ada kekurangan dalam posting saya tersebut, sebab saya baru pertama kali menulis ini.




Lampiran

Berikut ini saya berikan gambar-gambar terkait edisi terakhir Sinar Harapan (31/12) yang diambil dari sinarharapan.co/epaper:
Cover Sinar Harapan, 31 Desember 2015

Kumpulan artikel-artikel pilihan dari edisi terakhir Sinar Harapan (31/12)

Senin, 21 Desember 2015

Penamaan Islandia

Tahukah anda tentang sistem penamaan keturunan satu keluarga di Islandia?


Di Islandia, sistem penamaan ini berbeda dari negara-negara lainnya. Penamaan tersebut menganut sistem patronimik pada umumnya, yang mana nama tersebut mencerminkan kepada ayah kandung (sama seperti bin atau binti dalam Islam). Hingga sekarang, Islandia terus menggunakan sistem penamaan tradisional mereka, yang sebelumnya digunakan oleh bangsa-bangsa Nordic.



Nama keluarganya yang belum pernah digunakan sebelumnya di Islandia, harus mendapat persetujuan terlebih dahulu oleh lembaga yang khusus menangani masalah penamaan yang disebut Mannanafnanefnd (Komite Penamaan Islandia). Syarat agar nama tersebut disetujui adalah bisa atau tidak bisakah nama tersebut dengan mudah dimasukkan dalam Bahasa Islandia, dan dengan berbagai pengecualian, mereka harus berisi huruf yang hanya terdapat dalam alfabet Islandia, termasuk þ (dibaca thorn) dan ð (dibaca eth).



Bagaimana cara pemberiannya?

Misalkan ada seorang ayah bernama Gunnar Gunlaugsson. Ia memiliki dua anak, Bjork dan Silja. Nama terakhir mereka berdua tidak dinamai Gunlaugsson seperti ayahnya, tetapi dinamai berdasarkan ayah kandungnya (rumusnya: nama depan + nama ayah kandung-son/dottir). Seperti Bjork Gunnarsson, bermakna bahwa Bjork adalah anak dari Gunnar Gunlaugsson. Begitu juga untuk perempuan, Silja Gunnarsdottir juga memiliki makna bahwa Silja adalah anak dari Gunnar Gunlaugsson.


Secara diagram, digambarkan sebagai berikut:








Selain itu, ada juga variasi penamaan lainnya. Seperti contoh dibawah ini:

Ragnar Bryndisarson (Ragnar adalah anak dari Bryndis),
Olafur Helguson (Olafur adalah anak dari Helga), dan
Roland Thorsteinsson Sigfusson (Roland adalah anak dari Thorstein dan Sigfus).


Sumber: en.wikipedia.org

Kamis, 05 November 2015

Komunikator Politik

Dalam melakukan suatu kegiatan berpolitik, pasti akan memerlukan seorang komunikator politik yang dapat memengaruhi komunikan politiknya. Lalu, apakah sebenarnya  komunikator politik itu?

Komunikator Politik adalah seseorang/sekelompok orang yang menyampaikan pesan politik. Biasanya terkait dengan kekuasaan, kebijakan, aturan, atau kewenangan pemerintah yang bertujuan mempengaruhi khalayak, baik secara verbal maupun non-verbal.

Soal komunikator politik sendiri, Dan Nimmo (1989) mengklasifikasikannya dibawah ini:

1.) Politisi, merupakan orang yang bercita-cita untuk dan/atau memegang jabatan pemerintah, tak peduli apakah mereka dipilih atau ditunjuk, atau pejabat karir, dan tidak mengindahkan apakah jabatan itu merupakan eksekutif, yudikatif atau legislatif. Daniel Katz membagi tipe politisi dalam dua tipe:
  • Politisi ideolog, merupakan orang yang dalam proses berpolitiknya lebih memperjuangkan kepentingan bersama.
  • Politisi partisan, merupakan orang yang dalam proses berpolitiknya lebih memperjuangkan kepentingan partainya.


2.)  Profesional, merupakan orang yang menjadikan komunikasi sebagai mata pencaharian. Hal ini karena keahliannya dalam berkomunikasi  terasah dengan baik dan sering dicari orang untuk membantu melakukan komunikasi politik. Yang dimaksud komunikator profesional adalah:
  • Wartawan, merupakan komunikator profesional yang bekerja melaporkan berita di media massa. Secara khas, wartawan merupakan karyawan organisasi pers yang dapat menghubungkan sumber berita dengan khalayak, termasuk mengatur politisi untuk berbicara satu sama lain, menghubungkan politisi dengan khalayak umum, dan lainnya.
  • Promotor, merupakan seseorang yang dibayar untuk mengajukan kepentingan langganan tertentu. Yang termasuk promotor adalah orang yang berprofesi sebagai agen publisitas tokoh masyarakat penting, staf humas (baik di lingkungan Pemerintah maupun Perusahaan Swasta), juru kampanye, dan lainnya. Mereka bekerja untuk kepentingan kandidat politik dan tokoh masyarakat lain.
  • Aktivis, merupakan komunikator politik yang paling utama. Aktivis bertindak sebagai saluran organisasional dan interpersonal. Aktivis ini biasanya bukan professional dalam komunikasi, namun cukup terlibat dalam perpolitikan dan komunikasi politiknya semi-profesional.

3.) Pemuka pendapat (opinion leader), merupakan orang yang mewakili masyarakat dalam menerima dan menyeleksi pesan politik untuk disampaikan kembali kepada masyarakat. Pemuka pendapat memiliki peran dalam masyarakat, yaitu mempengaruhi keputusan orang lain, meyakinkan orang lain kepada cara berpikir mereka, dan meneruskan informasi politik dari media ke masyarakat. Orang-orang yang dianggap sebagai pemuka pendapat adalah:
  • Tokoh masyarakat: tokoh-tokoh yang dihormati dan disegani warga dilihat dari usia, kedudukan sosial, dan pengalaman. Misalnya: Guru, Ketua RT, Pensiunan polisi/TNI/guru/PNS.
  • Tokoh adat: tokoh-tokoh yang dihormati dalam lingkungan adat karena memiliki kedudukan istimewa.
  • Tokoh agama: tokoh-tokoh yang dihormati dan disegani masyarakat karena keahliannya dalam hal agama. Misalnya: Ustadz/Kiai dan Pendeta.
  • Keluarga/Orang Tua: Yang tidak kalah pentingnya adalah keluarga/orang tua sebagai pemuka pendapat. Mereka dihormati karena hubungan keluarga yang erat, baik dilihat dari usia, atau kedudukannya.
Komunikator politik memiliki empat komponen efektivitas, yaitu kredibilitas, daya tarik, kesamaan dan kekuatan (Power).
  • Kredibilitas, merupakan sumber yang mengacu pada sejauh mana seorang narasumber dipandang memiliki keahlian dan kepercayaan.
  • Daya tarik. Hal ini bisa terjadi karena penampilan fisik, gaya bicara, sifat secara pribadi, keakraban, kinerja, keterampilan berkomunikasi dan perilaku.
  • Kesamaan. Sumber yang disukai oleh audience bisa jadi karena sumber tersebut memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan, harapan dan persamaan.
  • Kekuatan (power). Sumber yang memiliki kekuatan akan lebih efektif dalam penyampaian pesan dan penerimanya.