Sabtu, 10 Desember 2016

Timnas Garuda Lolos ke Final

HANOI—Tim nasional Indonesia memastikan tempat di final Piala AFF 2016 usai mempertahankan skor imbang 2-2 melawan Vietnam pada leg kedua semifinal yang digelar di Stadion My Dinh, Hanoi, Vietnam, Rabu (7/12) malam. Indonesia lolos dengan kemenangan agregat 4-3.
Banyaknya peluang yang terjadi di babak pertama membuat skor menjadi 0-0. Di babak kedua, Indonesia mulai memecah kebuntuan. Gol pertama dicetak oleh Stefano Lilipaly pada menit ke-54 setelah menyambar bola dari umpan silang Boaz Solossa yang gagal di halau bek Vietnam Tran Dinh Dong dan kiper Tran Nguyen Manh. Timnas Garuda—julukan Indonesia—mendapat keuntungan setelah kiper Tran Nguyen Manh diusir wasit pada menit ke-76 setelah menendang gelandang Bayu Pradana saat kemelut terjadi di kotak penalti.
Meski bermain dengan 10 pemain, Vietnam mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui sepakan keras  Vu Van Tanh yang berawal dari tendangan bebas pada menit ke-82. Memasuki menit ke-90, tim Bintang Emas—julukan Vietnam—berbalik unggul 2-1 setelah Vu Minh Tuan sempat memperdaya dua pemain Indonesia sebelum menjebol gawang Kurnia Meiga. Babak kedua berakhir dan skor agregat 3-3 membuat pertandingan dilanjutkan melalui babak extra time.
Pada babak pertama extra time, Indonesia mendapat kesempatan untuk menyamakan kedudukan setelah Ferdinan Sinaga dilanggar kiper pengganti Vietnam, Que Ngoc Hai pada menit ke-96. Manahati Lestusen yang menjadi eksekutor penalti berhasil melaksanakan tugasnya. Skor 2-2 bertahan hingga babak pertama extra time usai. Di babak kedua extra time, Vietnam terus menekan pertahanan Indonesia. Meski demikian, tak ada gol tercipta dan Indonesia mampu mempertahankan skor imbang 2-2 hingga akhir babak extra time.

Indonesia otomatis lolos ke final dengan agregat 4-3. Sebelumnya pada leg pertama, Indonesia mengalahkan Vietnam dengan skor 2-1 di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (3/12). Kini, Indonesia akan menunggu lawannya di final antara Thailand dan Myanmar yang akan melangsungkan leg kedua pada Kamis (8/12) mendatang di Bangkok, Thailand. (*)

Untuk keperluan tugas.

Senin, 07 November 2016

Mereka yang Peduli Kebersihan di Tengah Demo

   Ada pemandangan yang tidak biasa dalam unjuk rasa kasus penistaan agama Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama, Jumat (4/11) lalu. Tidak hanya para pendemo yang memenuhi jalanan ibukota yang ramai dan penuh sesak, ada beberapa orang yang peduli dengan lingkungan sekitar berinisiatif membantu kerja para petugas kebersihan dengan mengumpulkan sampah-sampah yang bertebaran di sepanjang jalan.
   Seperti yang dilakukan Yuli. Wanita paruh baya tersebut berjalan di antara para pendemo yang melakukan long march dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara, sambil memunguti sampah. Sampah-sampah tersebut dimasukkannya ke dalam kantung plastik (trash bag). Ia tampak bersemangat memunguti sampah-sampah tersebut sehingga membuat demonstran yang melihat aksi wanita itu ikut membantu mengumpulkannya.
  Menurut Yuli, aksi yang dilakukannya seorang diri tersebut bertujuan untuk menyadarkan masyarakat, terutama pendemo agar tidak hanya berdemo menyuarakan pendapat saja, namun juga peduli terhadap lingkungan sekitar tempat mereka berdemo. “Yang seperti ini harusnya bisa dicontoh,” ucapnya.
    Tidak hanya Yuli, sejumlah santri asal Bogor, Jawa Barat, juga melakukan hal yang sama. Mereka memunguti sampah-sampah yang dibuang para pendemo di sepanjang jalan yang dilalui pendemo. Aksi yang dinamai ‘Demo Bersih’ ini dilakukan dengan didasari ajaran Islam tentang kebersihan.
   “Kami bersama teman-teman sangat peduli dengan kebesaran dan kemuliaan Islam, jadi kami berkumpul dan bergerak bersama untuk menjaga kebersihan Jakarta pada demo ini,” ujar Achmad, koordinator aksi tersebut. Kelompok ini akan terus membersihkan sampah-sampah sepanjang demo berlangsung. Dengan begitu, kata Achmad, aksi tersebut tetap meninggalkan kesan baik bagi pendemo.

     Aksi bersih-bersih sampah ini tentu sangat menginspirasi para pendemo untuk tergerak melakukan kegiatan yang positif ini. Selain untuk meringankan beban para petugas kebersihan, aksi tersebut membuat Kota Jakarta kembali bersih pasca demo. (*)

Untuk keperluan tugas.

Rabu, 26 Oktober 2016

Pilkada DKI Jakarta 2017: Pengundian Nomor Urut Paslon Gubernur Telah Dilangsungkan

JAKARTA – Rapat pleno pengundian nomor urut pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 telah berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, kemarin (25/10) malam.
      Hasil dari pengundian tersebut, pasangan Basuki Tjahja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (BADJA) mendapat nomor urut 2, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (ASLI) mendapat nomor urut 1, dan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi) mendapat nomor urut 3.
       Acara yang sedianya dimulai pada pukul 19.00 WIB, baru dilaksanakan pada sekitar pukul 20.00 WIB setelah menunggu kedatangan pasangan Anies-Sandi ke lokasi rapat pleno. Acara tersebut diawali dengan sambutan dari Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta, Sumarno, dilanjutkan dengan pengambilan nomor urutan untuk mengambil nomor urut resmi.
     Massa simpatisan pendukung masing-masing pasangan calon, baik yang berada diluar maupun didalam gedung JIExpo tampak bersorak setelah para pasangan calon menunjukkan nomor urut yang akan dipergunakan mulai masa kampanye hingga pemilihan nanti pada 15 Februari 2017 mendatang.
   Massa yang berkumpul sejak sore kemarin memadati JIExpo Kemayoran, Jakarta. Untuk pengamanan sendiri, sebanyak 1400 personel disiagakan guna mengamankan acara tersebut.

   Sesuai jadwal, setelah pengundian nomor urut, ketiga pasangan calon tersebut akan mulai berkampanye pada 28 Oktober. (*)

Untuk keperluan tugas

Senin, 24 Oktober 2016

Normalisasi Kali Cakung Drain untuk Atasi Banjir

Jalan Inspeksi Cakung Drain saat normalisasi, Senin (24/10)
JAKARTA--Ada pemandangan yang tidak biasa pada Minggu (23/10) pagi. Beberapa alat berat mulai berjejer di sepanjang jalan, material-material proyek berupa beton jenis sheet pile tertata rapi, bahkan banyak diantaranya yang sudah dipasang rapi di sepanjang tepian.
     Ini merupakan proyek normalisasi Kali Cakung Drain yang berlokasi di Cilincing, Jakarta Utara. Proyek tersebut merupakan salah satu bagian dari proyek normalisasi kali di DKI Jakarta. Tujuannya, sudah pasti untuk mengatasi banjir, terutama di Jakarta Utara. Selain dilakukan pembuatan tepian dengan sheet pile, Jalan Inspeksi Cakung Drain--yang menghubungkan Cilincing dengan Cakung sebagai jalan tembus--akan diperlebar. Untuk itu, bangunan-bangunan liar yang berdiri di sepanjang bantaran kali dibongkar guna memperlebar jalan.
     Kali Cakung Drain, sebelum dilakukan normalisasi tersebut, kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak sampah-sampah yang menumpuk dan bercampur dengan lumpur, sehingga membuat luas kali menjadi dangkal dan menyempit, bahkan sampai membentuk daratan utuh dari sisi kali hingga hampir bagian tengah kali. Selain itu, banyaknya bangunan liar yang berdiri di sekitar bantaran kali menambah kesan kumuh kali tersebut.
      Imbas dari pendangkalan kali tersebut, kapal nelayan yang setiap harinya melewati kali ini untuk menuju laut terhambat karena harus berbagi arus kapal nelayan satu dengan kapal nelayan lain. "Kalau malam tidak ada penerangan. Kalau tidak hati-hati, kapal bisa menabrak tumpukan sampah yang membentuk daratan," ujar salah seorang nelayan, Kasman (39), seperti dikutip beritajakarta.com, Rabu (5/8).
       Pantauan pada Senin (24/10) pagi, proyek tersebut saat ini masih berjalan. Tentu, diharapkan proyek tersebut selain dapat mengatasi banjir, Jalan Inspeksi Cakung yang selama ini penuh dengan bangunan liar di kedua sisi jalan tersebut, akan tampak cantik bila telah rampung. Semoga. (*)

Untuk keperluan tugas.

Kamis, 09 Juni 2016

Kebiri bagi Pelaku Kekerasan Seksual

   Kasus kekerasan seksual (perundungan) di Indonesia sudah mulai mengkhawatirkan. Anak-anak sebagai penerus generasi bangsa menjadi 'mangsa' orang-orang yang tidak bermoral. Pengaruh pornografi menjadi sebab dari munculnya tindakan kekerasan seksual, namun kurangnya pengawasan orang tua juga menjadi faktor yang menyebabkan anak menjadi korban. Akibatnya, korban tindakan tercela itu menanggung malu dan tidak dapat bersosialisasi, bahkan hingga menyebabkan kematian bila korban berusaha melawan saat dipaksa melayani nafsu sang pelaku.
    Pemerintah menganggap hal ini sudah sangat berbahaya, sehingga pemerintah membunyikan tanda darurat kekerasan seksual. Mereka juga sedang mencari solusi untuk menghapus angka kekerasan seksual di Indonesia, selain melakukan pemblokiran terhadap situs-situs pornografi, meningkatkan peran orang tua dalam melindungi anak. Solusi yang dikeluarkan adalah dengan menggulirkan hukuman kebiri kepada pelaku.
  Kebiri merupakan tindakan bedah dan atau menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Banyak negara yang masih menjalankan hukuman jenis ini, seperti Ceko, Jerman, Moldova, Estonia, Argentina, Australia, Israel, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia, serta beberapa negara bagian di Amerika Serikat.
   Di Indonesia sendiri, hukuman kebiri tertuang dalam Perppu No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang telah ditandatangani Presiden Joko Widodo. Dalam Perppu tersebut dijelaskan sanksi kebiri yang diberikan, yaitu kebiri secara kimia serta pemasangan alat deteksi elektronik yang bertujuan agar pergerakan pelaku bisa dideteksi setelah keluar dari penjara.
   Masyarakat sangat menyambut baik apa yang telah diputuskan Presiden. Karena dengan adanya Perppu tersebut, diharapkan kasus kekerasan seksual pada anak dapat teratasi, sehingga anak-anak kita dapat merajut masa depan yang lebih baik, dan tentu dapat menjadi harapan nusa dan bangsa.

Sabtu, 28 Mei 2016

EKSLUSIF: Seminar FIKOM Days 2016 Universitas Jayabaya

   FIKOM Days pada tahun ini mengadirkan tema Crayon Trophy (Creativity and Communication Through Cinematography). Kegiatan tahunan Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya Jakarta ini berlangsung Rabu (18/5) dan Kamis (19/5). Kegiatan tersebut akan diisi berbagai acara, seperti seminar bertema Creative Entrepreneur yang akan menghadirkan pembicara Sandiaga Uno (Pengusaha dan Bakal Calon Gubernur Provinsi DKI Jakarta), Seminar Eagle Award Metro TV bertema Dibalik Dokumenter dengan pembicara Jastis Arimba, bazar, pentas seni, dan musik akustik. Selain itu, juga ada pemutaran film indie karya mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya yang berjudul The Journal.
   Bagaimana keseruan kegiatan seminar tersebut? Simaklah laporan berikut ini.

Seminar I: "Dibalik Dokumenter" bersama Jastis Arimba
Pembantu Dekan III FIKOM Univ. Jayabaya, Mung Pujanarko,
bersama narasumber Jastis Arimba
  Pada seminar yang digelar Rabu (18/5), pembicara yang dihadirkan adalah pembuat film dokumenter Jastis Arimba. Dengan moderator Mung Pujanarko, SSos, MIKom (Pembantu Dekan III FIKOM Jayabaya), Jastis memaparkan bagaimana langkah-langkah membuat film dokumenter.
Jastis Arimba saat memberikan materi pembuatan
film dokumenter
     Jastis menjelaskan, ada tiga tahap dalam membuat dokumenter, yaitu tahap pra-produksi, tahap produksi, dan tahap pasca produksi. Tahap pra-produksi terdiri dari melakukan riset, membuat ide cerita, film statement, dan draft script, serta menentukan planning produksi. Setelah tahap pra-produksi telah dilakukan, masuk ke tahap produksi. Dalam film dokumenter, proses produksi tersebut hanya berupa pengambilan gambar dan wawancara. Setelah selesai, dilakukan proses pasca produksi, seperti loging, transcript, editing script dan video editing.
     Di akhir seminar, diputar juga sebuah film dokumenter karya Jastis Arimba yang berjudul Hikayat Takdir Tatung, yang mengisahkan tentang tradisi yang digelar setiap perayaan besar etnis tionghoa di Singkawang, Kalimantan Barat. Film tersebut mengandung beberapa unsur kekerasan sehingga tidak lulus sensor.






Seminar II: "Creative Entrepreneur" bersama Sandiaga Uno
Ketua Ikatan Alumni FIKOM Univ. Jayabaya Reylando EP
bersama Sandiaga Uno
  Sementara itu, pada seminar yang digelar Kamis (19/5), pembicara yang dihadirkan adalah pengusaha sekaligus bakal calon gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno. Dengan moderator Reylando EP (Ketua Ikatan Alumni FIKOM Universitas Jayabaya Jakarta), Sandi Uno membagikan pengetahuan dan pengalaman hidupnya kepada peserta yang sangat antusias dengan kehadirannya.
   Dalam seminar tersebut, Sandi Uno menjelaskan bagaimana menjadi wirausaha yang kreatif, seperti dengan meningkatkan skill. Karena selain teori, perlu ditingkatkan dengan kegiatan magang yang lebih banyak, karena di kampus lebih banyak memberi teori daripada meningkatkan teori. Selain itu, bergabung dengan himpunan guna mengembangkan portfolio. Yang tak kalah penting adalah mempertahankan nilai akademik. Nilai akademik menjadi prioritas disamping networking dan social.
Sandiaga Uno saat memberikan materi
tentang Creative Entrepeneur
    Sandi Uno juga memaparkan, passion menjadi langkah untuk membangun usaha kreatif. "Buat  business plan, buat jaringan, perluas pertemanan kita dan perluas akademik. Setelah itu, jangan kita tinggal diam, mulai organisasikan diri kita, lalu action. Tanpa ini semua, sia-sia," jelas Sandi Uno. Tidak hanya itu, Sandi Uno juga menjelaskan etos kerja 4 AS, yaitu Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas, dan Kerja Ikhlas.
    Setelah Sandi Uno memberikan materi, para peserta diajak untuk menyaksikan film indie karya mahasiswa FIKOM Jayabaya yang berjudul The Journal. Film yang digarap oleh Muhammad Lutfi Soamole, mahasiswa semester IV, menceritakan tentang seorang extrovert, Fadhil yang bersahabat dengan Sidik, seorang introvert yang tuna wicara. Fadhil yang berkali-kali gagal dalam sidang skripsi akhirnya dapat lulus berkat Sidik, dan sebagai ucapan terima kasih, Fadhil diam-diam membantu mempertemukan Sidik dengan Keziah, gadis yang membuat Sidik terpana saat berkumpul dengan teman-temannya. Dan setelah pemutaran, para pelaku yang terlibat dalam film tersebut tampil ke depan untuk menjelaskan film tersebut (lihat video).



    Antusias para peserta terasa dalam dua seminar tersebut. Namun, acara tersebut belum berakhir. Karena selain dua seminar, digelar juga FAME (Food, Art & Music Entertainment) yang digelar sejak pagi hari. Untuk acara puncak sendiri, masih menunggu rencana kapan akan dimulainya. Jadi, tunggu saja puncak acara FIKOM Days 2016 di Universitas Jayabaya! (*)

GALERI


ANTUSIAS:
Antusiasme peserta tinggi saat seminar Creative Entrepreneur bersama Sandiaga Uno, Kamis (19/5). Panitia sudah mengantisipasi ketersediaan souvenir bagi para peserta, karena pada seminar dokumenter, Rabu (18/5), jumlah peserta yang datang kurang lebih sekitar 100 orang.
KARYA FIKOM:
Film 'The Journal' karya Muhammad Lutfi Soamole diputar pada akhir seminar creative Entrepreneur, Kamis (19/5). Di foto ini, terlihat adegan dimana Fadhil sempat menanyakan keberadaan teman-temannya kepada Peny di sekretariat mahasiswa FIKOM.
BERTANYA:
Salah satu peserta seminar mengajukan pertanyaan kepada Sandiaga Uno, disaksikan moderator Reylando EP dalam seminar Creative Entrepreneur, Kamis (19/5)
PENYERAHAN PLAKAT:
Pembantu Dekan II FIKOM Jayabaya, Ika Yuliasari, ST, SIP, MSi, menyerahkan plakat kepada Sandiaga Uno pada sesi akhir seminar Creative Entrepreneur, Kamis (19/5).







HIBURAN:
Dua pembawa acara tampil membuka FAME (Food, Art, Music & Entertainment) di lobby tengah Gedung Kampus Universitas Jayabaya, Rabu (18/5).

Kamis, 28 April 2016

LGBT Menghantui Generasi Muda

   Akhir-akhir ini, banyak tayangan (baik reality show maupun sinetron) yang tayang di televisi menampilkan adegan-adegan yang mengandung unsur LGBT. Dalam tayangan tersebut, ada beberapa adegan yang sebenarnya tidak terasa aneh dan menganggap itu sebagai hal biasa, misalnya, lelaki dipanggil dengan sebutan madam, atau pemeran pria berpenampilan banci.
   Mungkin kita masih mengingat Aming, artis yang ketika zaman program Extravaganza di salah satu stasiun televisi swasta pernah membawakan peran-peran banci. Begitu juga tingkah laku Olga Syahputra (alm.) yang disetiap penampilan selalu berpenampilan lebay. Peran-peran seperti ini di mata orang yang menyaksikan, memberikan hiburan tersendiri. Namun di sisi lain, peran-peran tersebut memiliki dampak yang buruk bagi yang menonton, apalagi bila yang menontonya adalah anak-anak.
   Di Indonesia, pelaku-pelaku LGBT ini hanya segelintir dari kelompok masyarakat yang ada di Tanah Air. Jumlah mereka dapat dihitung dengan jari. Namun siapa sangka, bahwa kaum LGBT ini ternyata juga memiliki komunitas-komunitas tersendiri. Bahkan, ada yang mendapat dukungan dari sebuah lembaga mahasiswa di salah satu universitas negeri. Selain itu, ada usaha dari pelaku LGBT tertentu untuk menuntut legalisasi pernikahan sesama jenis oleh pemerintah dengan satu alasan: hak asasi manusia (silahkan buka situs Change.org untuk penjelasannya).
  Kita tentu sudah mengetahui tertangkapnya artis dangdut Saipul Jamil karena melakukan pencabulan terhadap anak dibawah umur. Dari penuturannya, Saipul Jamil semasa kecil sering dianiaya ayah kandungnya yang merupakan preman, sehingga ia lebih sering dekat dengan ibu kandungnya. Karena kedekatan itulah, ia mendambakan sosok istri yang mirip seperti ibunya. Namun kenyataan berkata lain. Saipul Jamil telah mengalami dua kali kandasnya rumah tangga. Yang pertama, bercerai dengan istri pertama, Dewi Persik, dan ditinggal mati istri kedua, Virginia Anggraini akibat kecelakaan di Tol Cipularang, 5 tahun silam. Hal inilah yang membuatnya sulit melakukan hubungan dengan lawan jenis sehingga menimbulkan terjadinya pencabulan homoseksual.
   Tidak hanya kasus Saipul Jamil, ada kasus yang juga menghebohkan masyarakat terkait LGBT, salah satunya pernikahan sesama jenis. Di Bali pada September 2015 lalu, masyarakat maupun netizen dihebohkan dengan foto dan berita pernikahan sejenis antar pria. Dalam foto yang diposting melalui akun Facebook Ali Subandoro yang menandai akun Tico Mulya dan Joe Tully, tergambar prosesi pernikahan antara lain sungkeman, ucap janji nikah dan ungkapan kasih sayang dengan menempelkan kedua dahi sambil berpegangan tangan. (Sumber: Liputan6.com, ditulis 16 September 2015).
   LGBT (akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) merupakan sebuah kelainan orientasi seksual yang dialami seseorang. Bila dijelaskan per akronim, orang-orang yang termasuk dalam kelompok LGBT adalah:

  1. Lesbian: perempuan yang orientasi seksualnya ditujukan kepada perempuan
  2. Gay atau Homoseks: laki-laki yang orientasi seksualnya ditujukan kepada laki-laki
  3. Biseksual: kebiasaan seksual yang dilakukan kepada pria maupun wanita sekaligus
  4. Transgender: tidak samanya identitas gender terhadap jenis kelamin yang dimiliki

   Mengambil dari berbagai sumber seperti dikutip Wikipedia, istilah ini memiliki sejarahnya. Istilah pertama yang banyak digunakan, "homoseksual", dikatakan mengandung konotasi negatif dan cenderung digantikan dengan "homofil" pada era 1950-an dan 1960-an, dan lalu gay pada tahun 1970-an. Frase "gay dan lesbian" menjadi lebih umum setelah identitas kaum lesbian semakin terbentuk. Pada tahun 1970, Daughters of Bilitis menjadikan isu feminisme atau hak kaum gay sebagai prioritas. Maka, karena kesetaraan didahulukan, perbedaan peran antar laki-laki dan perempuan dipandang bersifat patriarkal oleh feminis lesbian. Banyak feminis lesbian yang menolak bekerja sama dengan kaum gay. Lesbian yang lebih berpandangan esensialis merasa bahwa pendapat feminis lesbian yang separatis dan beramarah itu merugikan hak-hak kaum gay. Selanjutnya, kaum biseksual dan transgender juga meminta pengakuan dalam komunitas yang lebih besar. Akhir 1970-an dan awal 1980-an, terjadi perubahan pandangan; beberapa gay dan lesbian menjadi kurang menerima kaum biseksual dan transgender. Kaum transgender dituduh terlalu banyak membuat stereotip dan biseksual hanyalah gay atau lesbian yang takut untuk mengakui identitas seksual mereka. Setiap komunitas yang disebut dalam akronim LGBT telah berjuang untuk mengembangkan identitasnya masing-masing, seperti apakah, dan bagaimana bersekutu dengan komunitas lain; konflik tersebut terus berlanjut hingga kini.
   Akronim LGBT ini kadang digunakan di Amerika Serikat dimulai dari sekitar tahun 1988. Baru pada tahun 1990-an istilah ini banyak digunakan. Walaupun singkatan LGBT tidak meliputi komunitas yang lebih kecil (lihat bagian Ragam di bawah), akronim ini secara umum dianggap mewakili kaum yang tidak disebutkan. Secara keseluruhan, penggunaan istilah LGBT telah membantu mengantarkan orang-orang yang terpinggirkan ke komunitas umum. Aktris transgender Candis Cayne pada tahun 2009 menyebut komunitas LGBT sebagai "minoritas besar terakhir", dan menambahkan bahwa "Kita masih bisa diganggu secara terbuka" dan "disebut di televisi." (id.wikipedia.org/wiki/LGBT)
   Benarlah apa yang dikatakan Sosiolog Budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati di salah satu media online yang mengatakan, "Tren ini (LGBT) semakin meningkat seiring dengan banyaknya produk-produk budaya populer yang masuk ke Indonesia. Seperti film tentang gay misalnya, membuat orientasi berbeda sudah lumrah, dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar,". Mengambil definisi teori jarum hipodermik yang menyebut bahwa terpaan media dapat langsung mengenai audience, sangat tepat karena audience yang diterpa konten-konten yang berbau LGBT biasanya akan langsung diterima, apalagi yang menerimanya adalah anak muda yang bisa dibilang 'gampang mengkuti tren'. Karena itulah, kaum LGBT di Indonesia menjadi lebih percaya diri karena mereka bebas berperilaku tanpa rasa malu.
   Upaya yang dilakukan pemerintah dalam membendung kehadiran kaum LGBT saat ini sudah cukup baik. Salah satunya, melalui Komisi Penyiaran Indonesia, mengeluarkan larangan mempromosikan LGBT, baik di radio maupun televisi. Namun, kita sangat mengharapkan kepada pemerintah agar jangan sampai lengah mengantisipasi usaha kaum LGBT untuk melegalkannya. Tak hanya pemerintah, peran serta masyarakat juga diperlukan seperti tokoh agama maupun tokoh masyarakat, bahkan dalam keluarga berperan penting untuk menghindarkan generasi kita dari pengaruh LGBT.

Sabtu, 23 April 2016

Profil Syawa Irhamna

     Syawa Irhamna (22) merupakan pesinetron pendatang baru yang bermain dalam sinetron Catatan Hati Seorang Istri yang ditayangkan di RCTI. Pesinetron kelahiran Jakarta, 2 April 1994 ini mengawali karier artisnya dari casting. Awalnya, ia dikenalkan dengan seorang sutradara oleh temannya, yang lantas mengikuti casting. Sempat mengalami gagal lolos dua kali, pada kesempatan ketiga, Syawa berhasil lolos casting dan langsung membintangi sinteron Catatan Hati Seorang Istri.
     Di sinetron tersebut, Syawa berperan sebagai Hana, istri pertama yang diselingkuhi oleh suaminya (diperankan Ashraff Sinclair). Namun di sisi lain, ia harus tegar dalam menjalani kehidupannya yang berantakan, termasuk dengan mendengarkan curhat para istri-istri lain yang mengalami hal yang serupa dengannya.
     Saat ini, Syawa sudah dua tahun menjalani karier sinetron. Dan sampai saat ini masih bermain di sinetron garapan Hanung Bramantyo tersebut yang mana musim ke-2 dari sinetron tersebut akan tayang 25 April di RCTI. Mahasiswi semester akhir di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya memiliki rencana untuk bermain film bergenre romantis. Selain itu, Syawa juga memiliki keinginan untuk bermain film internasional, namun Syawa akan melakukannya bila ada tawaran dari rumah produksi di luar negeri. Honor yang didapatkan selama bermain di sinetron tersebut sebesar Rp 10.000.000 untuk satu sinetron.
      Antara karier dan pendidikan, Syawa hanya ingin fokus kuliah. Namun, kegiatan syutingnya tidak terganggu karena ia sedang menyelesaikan skripsi S1 nya.
     Syawa memliki kekasih yang bernama Gilang Dwiki. Meski ia menekuni dunia sinetron, namun hubungan mereka terus terjalin. Pacarnya bahkan mendukung karier keartisannya. Ketika ditanya soal dukungan orang tua, Syawa mengatakan mereka hanya menyetujui kariernya. Kesuksesannya tak lepas dari figur yang menginspirasinya, yaitu Ibunya. Namun, tak ada anggota keluarga lain yang ingin mengikuti jejak maupun yang sudah menekuni keartisannya.
     Syawa yang kurang menyukai dunia keartisan/film dari Hong Kong dan India ini merasa menyukai dan nyaman menjalani perannya sebagai Hana di sinetron Catatan Hati Seorang Istri. Meski begitu, ia terkendala waktu dan kesehatan yang dapat mempengaruhi aktivitas syutingnya. Pesinetron yang menyukai peran melankolis dan religi ini mengatakan akan sebisa mungkin memerankan peran tersebut dengan baik.
   Dalam mengisi waktu senggangnya, Syawa sering berjalan-jalan ke mall. Dan ketika menuju tempat syuting, dalam tasnya biasanya hanya membawa dompet, alat-alat make up, dan buku untuk mengisi waktu jeda syuting. Syawa ternyata memiliki keinginan menjadikan Tara Budiman lawan mainnya di sinetron manapun.
     Agar tetap menjaga kecantikannya, Syawa membagikan rahasianya. Rahasia kecantikannya sangat sederhana, yaitu minum air putih, mengkonsumsi buah-buahan, dan menjaga pola makan. Syawa--yang memiliki kelompok penggemar yang disebut Salwatara--memiliki niat untuk membuka usaha butik yang dinamai Irhamna Syahril Butik di Kemang. Pengagum aktris Acha Septriasa dan Kristen Stewart ini kemungkinan juga akan melakoni profesi model. Dan saat ini, Syawa sedang ditawari oleh agensi model Zaura Model Agency. Selain itu, Syawa juga menginginkan tawaran membintangi iklan Wardah, salah satu produk kosmetik di Indonesia.

(untuk tugas mahasiswa)

Rabu, 16 Maret 2016

Mahasiswa Jayabaya mengunjungi Studio RCTI

     Rabu (16/3), mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya melakukan kunjungan ke studio RCTI di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta. Jumlah mahasiswa yang berkunjung berjumlah 53 orang dengan didampingi dua dosen, yaitu Mung Pujanarko, SSos, MIKom dan Winarni, SSos, MSi.
   Kedatangan rombongan mahasiswa disambut oleh Bpk. Chambara dari Divisi Corporate Communication RCTI di taman Dahsyat yang terletak di belakang gedung utama. Kemudian, rombongan diajak untuk keliling studio. Studio pertama yang dikunjungi adalah Studio 1 yang merupakan studio program musik Dahsyat. Di studio tersebut, para mahasiswa hadir untuk terlibat sebagai penonton tamu, meski hanya diberi kesempatan segmen pertama.
     Setelah beranjak dari studio 1, para mahasiswa diajak untuk melihat ruang master control. Di studio RCTI ini terdapat dua ruang master control, yaitu satu ruangan untuk Indovision, serta satu ruangan untuk RCTI. Setelah itu, rombongan menuju Studio 9 yang merupakan studio untuk program Baper. Kondisi studio sedang tidak digunakan dan set studionya masih berantakan. Kemudian, mereka menuju Studio 4 yang merupakan studio untuk program talkshow CECEPY bikin Happy. Disana, program tersebut sedang dilakukan recording untuk ditayangkan siang. Meski hanya berada disana hingga segmen pertama, namun, para mahasiswa telah merasakan atmosfer suasana setiap studio.
      Kunjungan pun berakhir di lobby gedung utama RCTI. Disnilah, tamu-tamu perusahaan maupun manajemen berkantor. Setelah tur studio, sebagai penutup diadakan sesi foto bersama. Dan rombongan meninggalkan studio sekitar pukul 11.30 WIB.

Para mahasiswa saat diberi pengarahan oleh Bpk. Chambara dari RCTI

Suasana studio Dahsyat RCTI sebelum live on-air

Para mahasiswa saat melihat ruang master control Indovision

Ruang master control RCTI

Bpk. Chambara dari RCTI saat menjelaskan tentang studio 9

Suasana saat program Dahsyat bersiaran dari studio Cecepy

Suasana studio program Cecepy sebelum recording

Rabu, 09 Maret 2016

Wawancara Jurnalisitik

   Wawancara pada dasarnya adalah bentuk teknik peliputan yang dilakukan wartawan pada umumnya. Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab tentang suatu masalah yang dilakukan oleh wartawan kepada narasumber.
   Wawancara jurnalistik sendiri adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan wartawan untuk mendapatkan informasi guna kepentingan produk jurnalistik. Syarifudin Yunus dalam Jurnalistik Terapan (2012), menyatakan bahwa teknik ini membutuhkan beberapa keterampilan dasar yang mencakup:
  1. Memahami maksud dan tujuan wawancara
  2. Menguasai topik dan materi yang diwawancarakan
  3. Mampu menata organisasi wawancara, termasuk waktu untuk melakukan wawancara
  4. Mampu mendeteksi keseuaian hasil wawancara dengan proyeksi berita yang akan ditulis


    Wawancara sendiri berisi pendapat, pandangan, atau pengamatan narasumber yang dijadikan bahan untuk penulisan berita. Selain itu, wawancara juga berguna untuk mengklarifikasi, mengkonfirmasi, atau meluruskan kembali informasi-informasi yang sebelumnya sempat beredar maupaun berita yang dilansir dari media lain.

Ada 8 persyaratan wawancara yang harus dipenuhi (Syarifudin Yunus, 2012), antara lain:
  1. Mempunyai tujuan jelas
  2. Efisien (dilakukan ringkas tetapi mendalam)
  3. Menyenangkan (tidak terkesan memberi tekanan terhadap narasumber/diinterogasi)
  4. Mempersiapkan diri dan riset awal (persiapkan materi yang akan ditanyakan kepada narasumber)
  5. Melibatkan khalayak (memihak kepentingan publik)
  6. Menimbulkan spontanitas
  7. Mengendalikan suasana
  8. Mengembangkan logika


Selain itu, syarat utama yang mutlak diperlukan dalam melakukan wawancara jurnalistik adalah:
  1. Memiliki kepecayaan diri tinggi
  2. Kecakapan materi/mampu menguasai masalah
  3. Memiliki pengalaman



   Perlu dipahami, prinsip dalam wawancara jurnalistik sangat penting untuk mendapatkan hasil wawancara yang optimal. Prinsip yang dipahami tersebut antara lain:
  1. Menjaga suasana agar tujuan wawancara tercapai
  2. Bersikap wajar
  3. Mengendalikan situasi agar tidak terbawa emosi dan terjebak dalam perdebatan
  4. Cerdas ketika mengambil kesimpulan
  5. Berfokus pada masalah agar saat wawancara tidak bertele-tele/keluar dari topik yang diwawancarakan
  6. Kritis
  7. Beretika sopan santun


     Dalam konteks lain, wawancara memiliki tiga kompetensi pokok, yaitu wawancara sebagai ilmu, wawancara sebagai seni, dan wawancara sebagai keterampilan. Maksudnya, wawancara sudah pasti memerlukan wawasan yang mendukung agar tujuan yang diinginkan tercapai. Selain itu, wawancara juga membutuhkan kreativitas berkomunikasi untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan, serta pada akhirnya wawancara menjadi suatu keterampilan khusus dalam membangun komunikasi dialogs dengan orang lain, didukung dengan aset bahasa yang produkif dan terampil.
Ada beberapa tujuan yang dicapai dalam wawancara jurnalsitik (Syarifudin Yunus, 2012), yaitu:
  1. Tujuan faktual: bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung
  2. Tujuan riset: bertujuan untuk mendapat informasi dan data-data penting yang terkait
  3. Tujuan penegasan: bertujuan untuk menguji kebenaran data yang didapat sebelumnya untuk mendapatkan fakta yang akurat.



Referensi: Yunus, Syarifudin. 2012. Jurnalsitik Terapan. Bogor: Ghalia Indonesia.

Minggu, 03 Januari 2016

Sinar Harapan (27 April 1961-31 Desember 2015)

Dan semuanya telah berakhir...


     Ya, Sinar Harapan harus kembali 'mati' untuk kedua kalinya--dan yang terakhir--setelah mengantarkan informasi kepada pembacanya selama 14 tahun kembalinya pasca breidel oleh pemerintahan orde baru Soeharto.

     Saya sendiri baru tahu bahwa Sinar Harapan sudah berhenti terbit setelah adik saya menunjukkan sebuah kutipan berita di Facebook dari salah satu situs berita ternama. Karena itulah, saya mencoba mengecek epaper Sinar Harapan untuk memastikan apakah benar Sinar Harapan sudah berhenti terbit atau bukan. Dan ternyata benar! Sinar Harapan menerbitkan edisi terakhirnya pada 31 Desember 2015 atau sehari menjelang tahun baru 2016. Melalui edisi tersebut, pihak penerbit yaitu PT. Sinar Harapan Persada menyampaikan pengumuman penghentian penerbitan Sinar Harapan berikut ini:

Pengumuman Penghentian Penerbitan Sinar Harapan, 31 Desember 2015
     Saya sendiri tahu bahwa mungkin, Sinar Harapan sepertinya tidak bertahan lama. Hal ini karena ketika saya terakhir mengunjungi situs epaper tersebut antara Oktober-November. Saat itu, saya terkejut bahwa Sinar Harapan sekarang jadi terbit setiap Senin-Jumat (Edisi Akhir Pekan yang terbit Sabtu dihentikan penerbitannya). Selain itu, jumlah halamannya mulai berkurang, dari awalnya 20 halaman sekarang menjadi 16 halaman.
     Memang, semenjak berganti wajah (saya lupa kapan tampilan baru itu mulai), banyak sekali rubrikasi yang dirombak oleh Sinar Harapan. Salah satunya yang masih saya ingat, jika pada tampilan Sinar Harapan sebelumnya, masih terdapat rubrik iklan baris, sekarang rubrik tersebut benar-benar hilang. Jadilah, iklan yang ada di koran ini hanyalah iklan kolom.
    Sungguh kecewa memang, tapi apa mau dikata. Sinar Harapan harus mengakhiri perjalanannya memberi informasi, meski ditengah pesatnya teknologi dan juga komersialisasi media. Sinar Harapan, yang terbit perdana pada 27 April 1961 dan terbit kembali pasca bredel oleh pemerintahan orde baru Soeharto pada 5 Juli 2001, sudah merasakan bagaimana lika-liku kebebasan pers Indonesia. Perjuangan koran yang terbit sore dengan slogan "Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih" pada awal-awal terbit hingga dibredel tidak selamanya mulus.
   Beberapa hal yang menjadi batu sandungan perjalanan Sinar Harapan adalah:

  1. Sinar Harapan dibredel bersama surat kabar lainnya pada 2 Oktober 1965 (2 hari pasca peristiwa G30S/PKI)
  2. Sinar Harapan berurusan Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK-PWI) pada tahun 1972 terkait berita yang berjudul "Presiden Larang Menteri-Menteri Fasilitasi pada Proyek Mini"
  3. Surat Izin Cetak (SIC) Sinar Harapan dicabut oleh Pangkopkamtib pada 2 Januari 1973. Hal ini karena Sinar Harapan selalu memberitakan dengan tajam kasus-kasus korupsi di Pertamina, Bulog, Kehutanan, dan bahkan pada 30 Desember 1972 pernah memuat RAPBN 1973-1974.
  4. Sinar Harapan dilarang terbit pada 20 Januari 1978 setelah memuat berita kegiatan mahasiswa, karena membuat situasi politik Indonesia memanas.
  5. Dan puncaknya, Oktober 1986, SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) Sinar Harapan dicabut oleh pemerintahan Soeharto. Berita yang berjudul "Pemerintah Akan Cabut 44 SK Tata Niaga Bidang Impor" menjadi penyebab dibredelnya Sinar Harapan, karena berita tersebut dinilai mengganggu stabilitas nasional.


   Sejak saat itu, Sinar Harapan sudah tidak bisa terbit. Apalagi pemerintah tidak mengabulkan pengijinan terbit kembali Sinar Harapan. Kalau ingin terbit, mau tak mau harus mendirikan perusahaan baru dan juga nama baru. Selain itu, pimpinan yang pernah mengelola Sinar Harapan tidak boleh memimpin koran baru tersebut. Hasilnya, terbitlah Suara Pembaruan pada 4 Februari 1987 (yang juga terbit sore, namun tetap eksis hingga sekarang. Bahkan, sekarang sudah memiliki kelompok media BeritaSatu yang menaungi Harian Investor Daily dan media-media lainnya) dibawah naungan penerbit PT. Media Interaksi Utama. Namun, hal ini menimbulkan perbedaan pendapat antara pendiri Sinar Harapan dengan manajemen barunya. Hingga pasca orde baru dan memasuki era reformasi BJ Habibie, Pak Rorim--begitu HG Rorimpandey (pendiri Sinar Harapan, kini almarhum) disapa--mengajak Nico Sompotan, Bara Katoppo, dan lainnya untuk menerbitkan kembali Sinar Harapan pada 5 Juli 2001. Namun, batu sandungan masih menjegal Sinar Harapan. Seperti yang ditulis Kristanto Hartadi (anggota dewan redaksi Sinar Harapan) di edisi terakhir Sinar Harapan, konflik-konflik internal terus terjadi, bahkan hingga hari-hari terakhir [lihat lampiran]. Namun, ia tidak pernah menyesal ikut membantu berdirinya kembali Sinar Harapan.

   Kini, Sinar Harapan sudah hilang di agen-agen, pengecer, bahkan tidak lagi datang ke pembaca. Namun, saya akan tetap mengenangnya sebagai surat kabar sore yang harus berjibaku menyusuri kerasnya kebebasan pers pada zaman orde baru, dan dari terbitnya kembali hingga tutupnya saat ini. Sebenarnya, Sinar Harapan bisa beralih ke media online yang dimiliki (seperti halnya Jurnal Nasional atau Jakarta Globe). Namun, entah sampai berapa tahun lagi, Sinar Harapan akan kembali datang mengantarkan berita-berita kepada pembacanya. Tapi yang jelas, semua sudah berakhir....


Catatan: penulis meminta maaf bila ada kekurangan dalam posting saya tersebut, sebab saya baru pertama kali menulis ini.




Lampiran

Berikut ini saya berikan gambar-gambar terkait edisi terakhir Sinar Harapan (31/12) yang diambil dari sinarharapan.co/epaper:
Cover Sinar Harapan, 31 Desember 2015

Kumpulan artikel-artikel pilihan dari edisi terakhir Sinar Harapan (31/12)