Rabu, 16 Maret 2016

Mahasiswa Jayabaya mengunjungi Studio RCTI

     Rabu (16/3), mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya melakukan kunjungan ke studio RCTI di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta. Jumlah mahasiswa yang berkunjung berjumlah 53 orang dengan didampingi dua dosen, yaitu Mung Pujanarko, SSos, MIKom dan Winarni, SSos, MSi.
   Kedatangan rombongan mahasiswa disambut oleh Bpk. Chambara dari Divisi Corporate Communication RCTI di taman Dahsyat yang terletak di belakang gedung utama. Kemudian, rombongan diajak untuk keliling studio. Studio pertama yang dikunjungi adalah Studio 1 yang merupakan studio program musik Dahsyat. Di studio tersebut, para mahasiswa hadir untuk terlibat sebagai penonton tamu, meski hanya diberi kesempatan segmen pertama.
     Setelah beranjak dari studio 1, para mahasiswa diajak untuk melihat ruang master control. Di studio RCTI ini terdapat dua ruang master control, yaitu satu ruangan untuk Indovision, serta satu ruangan untuk RCTI. Setelah itu, rombongan menuju Studio 9 yang merupakan studio untuk program Baper. Kondisi studio sedang tidak digunakan dan set studionya masih berantakan. Kemudian, mereka menuju Studio 4 yang merupakan studio untuk program talkshow CECEPY bikin Happy. Disana, program tersebut sedang dilakukan recording untuk ditayangkan siang. Meski hanya berada disana hingga segmen pertama, namun, para mahasiswa telah merasakan atmosfer suasana setiap studio.
      Kunjungan pun berakhir di lobby gedung utama RCTI. Disnilah, tamu-tamu perusahaan maupun manajemen berkantor. Setelah tur studio, sebagai penutup diadakan sesi foto bersama. Dan rombongan meninggalkan studio sekitar pukul 11.30 WIB.

Para mahasiswa saat diberi pengarahan oleh Bpk. Chambara dari RCTI

Suasana studio Dahsyat RCTI sebelum live on-air

Para mahasiswa saat melihat ruang master control Indovision

Ruang master control RCTI

Bpk. Chambara dari RCTI saat menjelaskan tentang studio 9

Suasana saat program Dahsyat bersiaran dari studio Cecepy

Suasana studio program Cecepy sebelum recording

Rabu, 09 Maret 2016

Wawancara Jurnalisitik

   Wawancara pada dasarnya adalah bentuk teknik peliputan yang dilakukan wartawan pada umumnya. Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab tentang suatu masalah yang dilakukan oleh wartawan kepada narasumber.
   Wawancara jurnalistik sendiri adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan wartawan untuk mendapatkan informasi guna kepentingan produk jurnalistik. Syarifudin Yunus dalam Jurnalistik Terapan (2012), menyatakan bahwa teknik ini membutuhkan beberapa keterampilan dasar yang mencakup:
  1. Memahami maksud dan tujuan wawancara
  2. Menguasai topik dan materi yang diwawancarakan
  3. Mampu menata organisasi wawancara, termasuk waktu untuk melakukan wawancara
  4. Mampu mendeteksi keseuaian hasil wawancara dengan proyeksi berita yang akan ditulis


    Wawancara sendiri berisi pendapat, pandangan, atau pengamatan narasumber yang dijadikan bahan untuk penulisan berita. Selain itu, wawancara juga berguna untuk mengklarifikasi, mengkonfirmasi, atau meluruskan kembali informasi-informasi yang sebelumnya sempat beredar maupaun berita yang dilansir dari media lain.

Ada 8 persyaratan wawancara yang harus dipenuhi (Syarifudin Yunus, 2012), antara lain:
  1. Mempunyai tujuan jelas
  2. Efisien (dilakukan ringkas tetapi mendalam)
  3. Menyenangkan (tidak terkesan memberi tekanan terhadap narasumber/diinterogasi)
  4. Mempersiapkan diri dan riset awal (persiapkan materi yang akan ditanyakan kepada narasumber)
  5. Melibatkan khalayak (memihak kepentingan publik)
  6. Menimbulkan spontanitas
  7. Mengendalikan suasana
  8. Mengembangkan logika


Selain itu, syarat utama yang mutlak diperlukan dalam melakukan wawancara jurnalistik adalah:
  1. Memiliki kepecayaan diri tinggi
  2. Kecakapan materi/mampu menguasai masalah
  3. Memiliki pengalaman



   Perlu dipahami, prinsip dalam wawancara jurnalistik sangat penting untuk mendapatkan hasil wawancara yang optimal. Prinsip yang dipahami tersebut antara lain:
  1. Menjaga suasana agar tujuan wawancara tercapai
  2. Bersikap wajar
  3. Mengendalikan situasi agar tidak terbawa emosi dan terjebak dalam perdebatan
  4. Cerdas ketika mengambil kesimpulan
  5. Berfokus pada masalah agar saat wawancara tidak bertele-tele/keluar dari topik yang diwawancarakan
  6. Kritis
  7. Beretika sopan santun


     Dalam konteks lain, wawancara memiliki tiga kompetensi pokok, yaitu wawancara sebagai ilmu, wawancara sebagai seni, dan wawancara sebagai keterampilan. Maksudnya, wawancara sudah pasti memerlukan wawasan yang mendukung agar tujuan yang diinginkan tercapai. Selain itu, wawancara juga membutuhkan kreativitas berkomunikasi untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan, serta pada akhirnya wawancara menjadi suatu keterampilan khusus dalam membangun komunikasi dialogs dengan orang lain, didukung dengan aset bahasa yang produkif dan terampil.
Ada beberapa tujuan yang dicapai dalam wawancara jurnalsitik (Syarifudin Yunus, 2012), yaitu:
  1. Tujuan faktual: bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung
  2. Tujuan riset: bertujuan untuk mendapat informasi dan data-data penting yang terkait
  3. Tujuan penegasan: bertujuan untuk menguji kebenaran data yang didapat sebelumnya untuk mendapatkan fakta yang akurat.



Referensi: Yunus, Syarifudin. 2012. Jurnalsitik Terapan. Bogor: Ghalia Indonesia.