Wawancara pada dasarnya adalah bentuk teknik peliputan yang dilakukan wartawan pada umumnya. Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab tentang suatu masalah yang dilakukan oleh wartawan kepada narasumber.
Wawancara jurnalistik sendiri adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan wartawan untuk mendapatkan informasi guna kepentingan produk jurnalistik. Syarifudin Yunus dalam Jurnalistik Terapan (2012), menyatakan bahwa teknik ini membutuhkan beberapa keterampilan dasar yang mencakup:
- Memahami maksud dan tujuan wawancara
- Menguasai topik dan materi yang diwawancarakan
- Mampu menata organisasi wawancara, termasuk waktu untuk melakukan wawancara
- Mampu mendeteksi keseuaian hasil wawancara dengan proyeksi berita yang akan ditulis
Wawancara sendiri berisi pendapat, pandangan, atau pengamatan narasumber yang dijadikan bahan untuk penulisan berita. Selain itu, wawancara juga berguna untuk mengklarifikasi, mengkonfirmasi, atau meluruskan kembali informasi-informasi yang sebelumnya sempat beredar maupaun berita yang dilansir dari media lain.
Ada 8 persyaratan wawancara yang harus dipenuhi (Syarifudin Yunus, 2012), antara lain:
- Mempunyai tujuan jelas
- Efisien (dilakukan ringkas tetapi mendalam)
- Menyenangkan (tidak terkesan memberi tekanan terhadap narasumber/diinterogasi)
- Mempersiapkan diri dan riset awal (persiapkan materi yang akan ditanyakan kepada narasumber)
- Melibatkan khalayak (memihak kepentingan publik)
- Menimbulkan spontanitas
- Mengendalikan suasana
- Mengembangkan logika
Selain itu, syarat utama yang mutlak diperlukan dalam melakukan wawancara jurnalistik adalah:
- Memiliki kepecayaan diri tinggi
- Kecakapan materi/mampu menguasai masalah
- Memiliki pengalaman
Perlu dipahami, prinsip dalam wawancara jurnalistik sangat penting untuk mendapatkan hasil wawancara yang optimal. Prinsip yang dipahami tersebut antara lain:
- Menjaga suasana agar tujuan wawancara tercapai
- Bersikap wajar
- Mengendalikan situasi agar tidak terbawa emosi dan terjebak dalam perdebatan
- Cerdas ketika mengambil kesimpulan
- Berfokus pada masalah agar saat wawancara tidak bertele-tele/keluar dari topik yang diwawancarakan
- Kritis
- Beretika sopan santun
Dalam konteks lain, wawancara memiliki tiga kompetensi pokok, yaitu wawancara sebagai ilmu, wawancara sebagai seni, dan wawancara sebagai keterampilan. Maksudnya, wawancara sudah pasti memerlukan wawasan yang mendukung agar tujuan yang diinginkan tercapai. Selain itu, wawancara juga membutuhkan kreativitas berkomunikasi untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan, serta pada akhirnya wawancara menjadi suatu keterampilan khusus dalam membangun komunikasi dialogs dengan orang lain, didukung dengan aset bahasa yang produkif dan terampil.
Ada beberapa tujuan yang dicapai dalam wawancara jurnalsitik (Syarifudin Yunus, 2012), yaitu:
- Tujuan faktual: bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung
- Tujuan riset: bertujuan untuk mendapat informasi dan data-data penting yang terkait
- Tujuan penegasan: bertujuan untuk menguji kebenaran data yang didapat sebelumnya untuk mendapatkan fakta yang akurat.
Referensi: Yunus, Syarifudin. 2012. Jurnalsitik Terapan. Bogor: Ghalia Indonesia.